Aku Terlahir 500 gr Dan Buta
Saat lahir ke dunia ini, sepertinya aku menggantikan ayah yang telah meninggal dunia, mendahuluiku. Ayah “pergi” padahal kami belum sempat bertemu dan bercanda.
Pada musim panas taun 1984, ayah meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Ayah seorang pegawai di sebuah perusahaan besar. Keluarga ayah menentang hubungannya dengan ibu dan tidak ingin mereka menikah. Padahal aku sudah ada dalam kandungan ibu. Walaupun keluarga ayah tidak mengakui mereka berdua, orangtuaku tetap menganggapku sebagai anak yang merka nanti-nantikan. Sayang sekali ayah meninggal dunia sebelum mereka sempat menikah.
Saat ayah meninggal, keluarga ayah tidak sama sekali memberi tau ibu. Ibu tau tentang berita duka itu dari teman ayah yang melayat pada hari pemakamannya. Ibu tidak bias langsung percaya begitu saja. Bagaimana mungkin? Mereka kan sudah merencanakan mau menikah dan sebentar lagi seorang anak akan lahir. Anak yang telah dinantikan. Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin terjadi! Itu jerit hati ibuku yang menangis sedih, meratapi keppergian ayah tanpa tau harus berbuat apa? Ibu hanya menangis dan menangis meratapi kepergian calon suaminya, ayahku.
Syok karena ditinggal ayah secara mendadak dan sedih karena tidak dapat menghadiri upacara pemakaman ayah, ternyata membuat tubuh ibu menjadi rentan. Padahal usia kandungan sudah memasuki bulan ke-6. Pada saat itu juga, ibu merasakan perutnya nyeri dan mulas. Ibu mulai menyadari adanya perubahan dalam kandungannya. “anakku, ada apa denganmu, nak?” teriak ibu pada saat itu, merasakan perutnya yang semakin sakit. Untuk menahan rasa sakitnya, ibu berusaha memengangi perutnya sambil menunduk. Tapi tetap saja sakitnya tak kunjung reda.
Tiba-tiba ibu merasa ada yang mengalir hangat dari selangkangannya. “Ada apa dengan kandunganku ini?” rintih ibu, sambil menahan nyeri. Ternyata air ketuban pecah. Ibu segera di larikan ke Rumah Sakit dan segera mendapat perawatan yang intensif d ruang ICU.
Dirumah sakit, ibu diinfus selama sepuluh hari, supaya aku tetap hidup di dalam rahimnya, tetap bertahan sampai waktuku untuk lahir tiba. Akan tetapi, dokter mengatakan, aku sebaiknya segera dikeluarkan karena membahayakan kesehatan ibu.
“Biasanya seorang bayi harus berada didalam perut ibunya selama 40 minggu, akan tetapi anak anda baru memasuki minggu ke-20. Jika tidak segera dil;ahirkan, akan membahayakan anda. Tetapi jika anda melahirkannya sekarang, kemungkinan besar dia tidak bias ditolong. Kalaupun bias bertahan, dia akan cacat,” kata dokter, dan langsung menyarankan supaya aku tidak usah dilahirkan saja. Dengan kata lain “digugurkan”. Begitu cerita ibu kepadaku.
“Tapi Dok, di dalam perutku ini ada nyawa. Tolong Dok, buat sesuatu supaya anakku hidup. Aku sudah kehilangan ayahnya, aku tak ingin kehilangan anak ini, “kata ibu, terus memohon dengan air mata terus berlinang, agar doktermau berusaha meng”hidup”kan aku. Apapun yang terjadi, ibu sudah memutuskan agar aku tetap hidup.
“Ibu, saya mengerti bagaimana perasaan seorang ibu pada anaknya. Tetapi anda juga harus tau, kalau anda terlalu lama diinfus, anak ini bias terkena infeksi. Saya usul, sebaiknya digugurkan saja. “ Dokter berusaha membujuk ibui agar merelakan aku.
Sesaat setelah mendengar nasehat dokter, ibu terdiam. Dia lalu berkata kepada ayah yang sudah meninggal. “suamiku, tolong jangan bawa pergi anak ini. Setelah kau tak ada, anak inilah yang akan menemaniku. Aku mohon! Jangan bawa anak ini.” Ibu berdoa sepenuh hati.
Rupanya Tuhan berbelas kasih. Dia mendengarkan semua semua permohonan yang dipanjatkan ibu. Tanggal 21 Agustusmalam, aku lahir dalam keadaan koma aku sama sekali tidak menangis. Beratku hanya 500 gram, seperenam dari berat bayi pada umumnya. Begitu kecilnya aku hinga bisa digenggam. Kepalaku sebesar telur dan jari2ku sekurus tusuk gigi. Bayi sepertiku disebut premature. Aku langsung dipindahkan ke inkubator, sebuah ruangan yang tertutup kaca dengan banyak selang.
Suatu hari, dengan langkah pelan-pelan ibu pergi mengunjungiku ke kamar bayi. Betapa terkejutnya dia saat melihatku di dalam inkubator. Kepalaku sebesar telur dan tubuhku hanya sepanjang pena seperti yang ditaruh di luar inkubator. Pinggulku sebesar ibu jari orang dewasa dan jari-jariku sekurus tusuk gigi. Tubuhku berwarna coklat, tidak seperti warna bayi pada umumnya. Ibu menangis melihat tubuhku begitu kecil.
“Ibu, anak ini mungkin akan bertahan paling lama dua atau tiga hari saja. Sebaiknya, anda menyiapkan diri menerima kenyataan ini. Lihatlah wajahnya sekarang selagi bisa,” kata dokter yang saat itu ada di ruangan bayi.
“Tidak. Anak saya tidak akan mati.”
Dokter tampak terkejut mendengar ucapan ibu.
Ibu terus melihatku. Perlahan-lahan matanya berkaca-kaca. Air mata mengalir dan terus mengalir.
“Maafkan ibu! Maafkan ibu, nak.” Tangisya, merasa bersalah melahirkanku terlalu cepat. Sebuah masker oksigen terpasang dihidungku dan sebuah selang infuse lainnya yang terpasang di dadaku. Mesin-mesin yang membalutku ini untuk menggerakkan kaki dan tangan, membantuku bertarung supaya tetap hidup walaupun dengan tubuh yang seadanya.
Ibu pernah berkata, dia tidak bisa menghentikan tangisannya ketika melihatku seperti itu. “Tolong, hiduplah! Teruslah hidup, anakku. Ayah pasti akan menolongmu,” kata ibu sambil melihatku.
Susu yang pertama kali kuminum adalah susu dari selang yang dimasukkan ke mulutku. Itupun hanya 1 cc. ibu gembira melihatku mau minum susu walaupun hanya sedikit. Suatu perkembangan yang baik, pikirnya. Tetapi dokter langsung berkata, “ paling lama dia akan bertahan dua atau tiga hari.” Dokter mengingatkan ibu.
Dua hari berlalu. Kemudian tiga hari juga berlalu begitu saja. Ucapan dokter tidak terbukti. Aku tetap terbaring tak berdaya antar hidup dan mati, dengan jantung dan organ-organ dalam tubuh yang belum sempurna. Beberapa kali juga aku hamper berhenti bernapas. Setelah tiga hari berlalu, dokter mulai menaksirkan hidupku “paling lama satu minggu.” Satu minggu lewat dan dokter mengoreksi, paling lama dia akan bertahan selama sepuluh hari.”
Sepuluh hari berlalu, dokter kembali mengoreksi, “paling lama dua puluh hari.” “Anakku, ibu akan membantumu. Teruslah berjuang! Ayo anakku, jangan lemah.” Ibu terus berada disampingku, menyemangati.
Perlahan-lahan ibu memasukkan tangannya kedalam inkubator tempatku berada dan menyentuh tanganku ke atas jari-jariku yang sebesar korek api, aku langsung mengenggam tangannya. Aku sama sekali tidak punya ingatan tentang itu. Tetapi, entah bagaimana aku sempat merasa kehangatan ibu yang terus menghiburku. Mungkin saat itu aku tau bahwa dia ibuku, sumber hidupku, yang selalu mendampingiku dan memberiku semangat agar tidak menyerah. “Teruslah hidup!” itulah yang sering diucapkan ibu saat menjengukku.t yang menjadi kekuatan untuk terus bertahan hidup.
Karena kondisi ibu sudah sehat, dia keluar dari rumah sakit duluan. Setelah itu, setiap hari ibu dating ke rumah sakit, membawakan ASI untukku. Selama di rumah sakit, pasti sepanjang hari ibu berdiri disampingku. Mengajakku tertawa, bercanda. Mengajakku berbicara walaupun aku tidak tau, menemaniku minum susu. Tak bisa kubayangkan betapa besar pengorbanan ibu, pengorbanan seorang ibuyang sungguh menginginkan anaknya bisa hidup dan bahagia.
Suatu hari, ketika seorang suster mencabut plaster elektrokardiogram dari dadaku, dia menarik plesternya terlalu kuat sehingga sebagian kecil kulitku ikut tertarikdan menempel diplester, dan dadaku berdarah.
Ibu sangat kaget melihat cara suster itu menarik plester. Dia segera berteriak karena tak tahan melihat darah yang mengalir dari dadaku. “Suster, tolong cabut plesternya lebih pelan, lihat itu sampai berdarah. Dia kan beda dengan bayi yang lain. Suster itu juga terkejut saat melihat kulitku ikut tertarik. “Maafkan saya, bu. Saya lupa kalau dia premature. Kulitnya sangat sensitive.” Beberapa kali suster itu meminta maaf.
Saat itu ibu diberitau dokter kalau kulitku baru mulai sekarang akan terbentuk. Ibu menganggap ini sebagai peristiwa penting yang tidak boleh dilewatkan. Ibu ingin selalu mengikuti semua perkembanganku. Kejadian kecil itu meninggalkan bekas luka yang sampai sekarang masih ada di dadaku.
Ibu bercerita bahwa saat itu dia sudah menetapkan nama untukku. Satu huruf, ki, diambil dari namanya. Huruf mi mempunyai arti supaya hatiku tetap cantik. huruf yu, supaya aku bisa hidup dengan bebas. Aku diberi nama Miyuki, supaya bisa dicintai dan disayangi oleh orang lain. Sungguh nama yang bagus dan besar maknanya. Sebuah nama yang diberikan ibuku dengan segenap curahan hatinya.
AKU TERLAHIR 500 gr DAN BUTA -MIYUKI INOUE-









wah..ni buku faforit aq..keren bgt dah bukunya..menyentuh hati bgt dah..
Oleh: muhammad zakariah on Januari 15, 2010
at 3:08 pm
emang kisahnya menyentuh hati banget, perjuangan seorang ibu yang pantang menyerah…
Oleh: bennietha on Januari 18, 2010
at 12:54 am
iy. so sad…
mmm ibu memng tak ada tandinganX….
Oleh: mhay_may.may on Maret 21, 2010
at 4:02 pm
yupz setuju !!!!
makanya yang sayang n nurut y ma mamah. btw makasih say dah mampir
Oleh: bennietha on April 6, 2010
at 1:48 am